Awalnya mendengar tentang protokol penyimpanan terdesentralisasi ini, jujur saja, saya tertarik karena berita airdrop. Saat itu saya berpikir, sebagian besar proyek seperti ini hanyalah hype konsep—entah kecepatan siput sehingga tidak bisa digunakan, atau biayanya lebih mahal dari cloud drive tradisional, sibuk-sibuk malah tidak sebanding dengan langsung pakai cloud drive milik BUMN. Sikap saya saat itu adalah ambil keuntungan gratis saja, yang kecil-kecil upload beberapa file tes, tidak pernah berpikir bisa benar-benar menggantikan tools penyimpanan yang saya gunakan sehari-hari.
Titik balik datang dari sebuah pilihan yang terpaksa. Suatu malam, cloud drive biasa tiba-tiba mulai throttling, puluhan GB desain dan materi proyek yang tersimpan di dalamnya tidak bisa diunduh, tim jadi panik, customer service resmi bilang harus menunggu 72 jam untuk pulih. Barulah saat itu saya ingat untuk mencoba solusi terdesentralisasi ini.
Proses migrasi ternyata sangat lancar. Awalnya saya sudah bersiap sibuk mengurus setengah hari, tapi interface upload ternyata simple berlebihan—tidak perlu kategorisasi manual atau packaging, sistem otomatis menangani adaptasi file. File kecil pakai Quilt (skema penyimpanan batch), file besar pakai pengodean Red Stuff untuk pemecahan. Kemudian baru paham prinsip Red Stuff, ini bukan sekadar enkripsi, melainkan membagi data menjadi slice utama dan slice sekunder, lalu tersebar ke berbagai node di seluruh jaringan. Bahkan jika tiga per empat node bermasalah bersamaan, data tetap bisa pulih sempurna—ini adalah skema pengodean berbasis operasi XOR, kecepatan peng-encode dan decode-nya jauh lebih cepat dari pengodean RS tradisional. Waktu itu rasanya seperti pencerahan, ternyata penyimpanan terdesentralisasi bisa mencapai aman sekaligus tidak lag.
Setelah pakai Quilt, saya menemukan pemahaman saya sebelumnya tentang penyimpanan file kecil sangat terbatas. Saat bikin desain akan menumpuk banyak materi gambar level KB, dulu semua tersebar di berbagai tools, baik menghabiskan ruang maupun sulit dikelola.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Awalnya mendengar tentang protokol penyimpanan terdesentralisasi ini, jujur saja, saya tertarik karena berita airdrop. Saat itu saya berpikir, sebagian besar proyek seperti ini hanyalah hype konsep—entah kecepatan siput sehingga tidak bisa digunakan, atau biayanya lebih mahal dari cloud drive tradisional, sibuk-sibuk malah tidak sebanding dengan langsung pakai cloud drive milik BUMN. Sikap saya saat itu adalah ambil keuntungan gratis saja, yang kecil-kecil upload beberapa file tes, tidak pernah berpikir bisa benar-benar menggantikan tools penyimpanan yang saya gunakan sehari-hari.
Titik balik datang dari sebuah pilihan yang terpaksa. Suatu malam, cloud drive biasa tiba-tiba mulai throttling, puluhan GB desain dan materi proyek yang tersimpan di dalamnya tidak bisa diunduh, tim jadi panik, customer service resmi bilang harus menunggu 72 jam untuk pulih. Barulah saat itu saya ingat untuk mencoba solusi terdesentralisasi ini.
Proses migrasi ternyata sangat lancar. Awalnya saya sudah bersiap sibuk mengurus setengah hari, tapi interface upload ternyata simple berlebihan—tidak perlu kategorisasi manual atau packaging, sistem otomatis menangani adaptasi file. File kecil pakai Quilt (skema penyimpanan batch), file besar pakai pengodean Red Stuff untuk pemecahan. Kemudian baru paham prinsip Red Stuff, ini bukan sekadar enkripsi, melainkan membagi data menjadi slice utama dan slice sekunder, lalu tersebar ke berbagai node di seluruh jaringan. Bahkan jika tiga per empat node bermasalah bersamaan, data tetap bisa pulih sempurna—ini adalah skema pengodean berbasis operasi XOR, kecepatan peng-encode dan decode-nya jauh lebih cepat dari pengodean RS tradisional. Waktu itu rasanya seperti pencerahan, ternyata penyimpanan terdesentralisasi bisa mencapai aman sekaligus tidak lag.
Setelah pakai Quilt, saya menemukan pemahaman saya sebelumnya tentang penyimpanan file kecil sangat terbatas. Saat bikin desain akan menumpuk banyak materi gambar level KB, dulu semua tersebar di berbagai tools, baik menghabiskan ruang maupun sulit dikelola.