Di era AI, aplikasi seperti apa yang bisa bertahan?
Logika perangkat lunak tradisional sangat sederhana—pengguna mengklik dan melakukan operasi, sistem menyelesaikan perhitungan, lalu pengguna mengonfirmasi hasilnya. Dalam proses ini, AI hanyalah pendukung, memperbaiki naskah, mengoptimalkan pengalaman, tetapi keputusan tetap di tangan manusia.
Sedangkan cara bermain aplikasi bernilai tinggi generasi berikutnya sangat berbeda. AI tidak lagi sekadar membantu, tetapi benar-benar menjadi pelaku utama. Bagaimana penampilannya?
Pertama adalah otomatisasi pengambilan keputusan. Sistem tidak menunggu perintah, melainkan secara independen menganalisis data pasar, perilaku pengguna, sinyal di chain, dan langsung membuat penilaian. Kedua adalah otomatisasi pemanggilan sumber daya. Baik memanggil kontrak pintar, memicu proses transaksi, maupun mendistribusikan sumber daya komputasi, semuanya dilakukan oleh AI secara mandiri tanpa perlu konfirmasi manusia satu per satu. Terakhir adalah perubahan peran manusia—dari operator menjadi auditor, bertanggung jawab atas pengawasan pasca-operasi dan intervensi saat terjadi abnormalitas.
Perubahan ini berarti apa bagi aplikasi Web3? Aplikasi yang mampu menjadikan AI sebagai tokoh utama—seperti automated market maker, kuantifikasi cerdas, kontrak tata kelola mandiri—akan menjadi tren berikutnya. Sebaliknya, aplikasi yang masih bergantung pada fitur dan UI untuk menarik pengguna, siklus hidupnya akan semakin pendek.
Dengan memahami perubahan ini, Anda akan bisa melihat seperti apa aplikasi generasi berikutnya di masa depan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
17 Suka
Hadiah
17
9
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
MetaMaskVictim
· 01-05 12:48
Ngomong-ngomong, keputusan mandiri AI terdengar menyenangkan, tapi siapa yang akan bertanggung jawab?
Lihat AsliBalas0
ShibaSunglasses
· 01-04 11:53
Singkatnya, AI harus benar-benar menjadi penguasa, bukan sekadar ikut-ikutan. Proyek-proyek yang masih sibuk dengan UI kemungkinan tidak akan bertahan lama lagi.
Lihat AsliBalas0
AlwaysQuestioning
· 01-03 23:06
Singkatnya, AI harus memiliki kekuasaan nyata, tidak hanya sebagai pekerja biasa
Lihat AsliBalas0
YieldWhisperer
· 01-03 05:48
lmao "ai sebagai protagonis" — pernah melihat pitch yang sama persis ini pada tahun 2021, cukup ganti kata-kata hype-nya. matematika tetap tidak cocok untuk pembuat pasar otomatis, penyedia likuiditas tetap saja rugi
Lihat AsliBalas0
rugpull_survivor
· 01-03 05:46
Sejujurnya, keputusan mandiri AI terdengar menyenangkan, tapi siapa yang akan bertanggung jawab?
Lihat AsliBalas0
StrawberryIce
· 01-03 05:39
Benar sekali, tetapi masalahnya sekarang berapa banyak proyek yang benar-benar mampu membuat AI mengambil keputusan secara mandiri, terdengar kebanyakan hanya gimmick
Lihat AsliBalas0
GasGasGasBro
· 01-03 05:32
Eksekusi otomatis AI? Saya hanya ingin bertanya, siapa yang akan bertanggung jawab?
Lihat AsliBalas0
FloorPriceNightmare
· 01-03 05:30
Eh, aku percaya AI jadi tokoh utama, tapi siapa yang akan bertanggung jawab?
Lihat AsliBalas0
TestnetFreeloader
· 01-03 05:29
Sial, AI membuat keputusan secara mandiri? Jadi uang saya aman, haha
Di era AI, aplikasi seperti apa yang bisa bertahan?
Logika perangkat lunak tradisional sangat sederhana—pengguna mengklik dan melakukan operasi, sistem menyelesaikan perhitungan, lalu pengguna mengonfirmasi hasilnya. Dalam proses ini, AI hanyalah pendukung, memperbaiki naskah, mengoptimalkan pengalaman, tetapi keputusan tetap di tangan manusia.
Sedangkan cara bermain aplikasi bernilai tinggi generasi berikutnya sangat berbeda. AI tidak lagi sekadar membantu, tetapi benar-benar menjadi pelaku utama. Bagaimana penampilannya?
Pertama adalah otomatisasi pengambilan keputusan. Sistem tidak menunggu perintah, melainkan secara independen menganalisis data pasar, perilaku pengguna, sinyal di chain, dan langsung membuat penilaian. Kedua adalah otomatisasi pemanggilan sumber daya. Baik memanggil kontrak pintar, memicu proses transaksi, maupun mendistribusikan sumber daya komputasi, semuanya dilakukan oleh AI secara mandiri tanpa perlu konfirmasi manusia satu per satu. Terakhir adalah perubahan peran manusia—dari operator menjadi auditor, bertanggung jawab atas pengawasan pasca-operasi dan intervensi saat terjadi abnormalitas.
Perubahan ini berarti apa bagi aplikasi Web3? Aplikasi yang mampu menjadikan AI sebagai tokoh utama—seperti automated market maker, kuantifikasi cerdas, kontrak tata kelola mandiri—akan menjadi tren berikutnya. Sebaliknya, aplikasi yang masih bergantung pada fitur dan UI untuk menarik pengguna, siklus hidupnya akan semakin pendek.
Dengan memahami perubahan ini, Anda akan bisa melihat seperti apa aplikasi generasi berikutnya di masa depan.